Tampilkan postingan dengan label Tokoh Panutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Panutan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 03, 2011

Di Balik Sejarah Poligami Rasulullah

Rasulullah, manusia teladan sepanjang jaman. Segala perkataan dan perbuatannya dijadikan ikutan, karena disebut sunah. Beberapa orang berpendapat, sunah Rasulullah diantaranya adalah poligami, karena Rasulullah memiliki istri lebih dari satu. Berapa jumlah totalnya, ada berbeda-berbeda pendapat. Seorang lelaki yang ingin berpoligami, sering kali menjadikan “sunah rasul” sebagai alasan. Tanpa melihat kembali alasan Rasul berpoligami dan kondisi masyarakat pada saat itu.
Di sisi lain, orientalis Barat memutarbalikkan fakta pernikahan poligami Rasulullah. Beliau dianggap hiperseks, doyan perempuan, nabi vulgar, dan sebagainya. Masya Allah! Semua sejarah pernikahan beliau dengan istri-istrinya pun diputarbalikkan. Contohnya, pernikahan Rasulullah dengan Zainab, yang pernah menjadi istri Zaid, anak angkat Rasulullah. Rasulullah dianggap muka mesum, jidat licin, bahkan istri anak angkatnya pun dirampas. Lalu, kisah pernikahan Rasulullah dengan Mariatul Qibtiyah, budak nasrani. Rasulullah dikatakan TIDAK MENIKAHI Maria, tetapi Maria digauli hingga hamil dan punya anak bernama Ibrahim. Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah pun dituliskan tidak kalah mesum. Rasulullah disebut pedofil, suka menggagahi anak kecil, sebab Aisyah menjadi istri Rasul saat berusia 9 tahun.
Naudzubillahimindzalik. Sesungguhnya Rasulullah jauh dari semua persangkaan itu. Sebelum menjadi nabi pun, penduduk Quraisy sudah menisbatkannya sebagai pemuda yang baik, jujur, santun, tidak pernah berbuat maksiat. Padahal, saat itu, penduduk Arab sangat jahiliah, penuh maksiat, suka berbuat dosa. Para pemudanya suka mendengarkan musik, berjoget dengan penari telanjang, mabuk-mabukan, main perempuan. Rasulullah jauh dari itu semua, karena ia sudah disiapkan oleh Allah untuk menjadi nabi. Ketika diajak kawannya ke sebuah pesta, Rasulullah dibuat tertidur, tak dapat melihat dan mendengar semua kemaksiatan itu. Sedari kecil, dadanya dibelah oleh malaikat Jibril dan dicuci bersih.
Rasulullah menikah dengan Khadijah, seorang wanita yang sudah dua kali menjanda, punya beberapa anak, dan sudah berumur 40 tahun. Padahal, Rasulullah baru berusia 25 tahun. Jika ia seorang pemuda yang suka syahwat, tentu ia lebih memilih istri yang masih muda dan bergairah. Rasulullah baru menikah lagi setelah Khadijah meninggal, ketika Rasulullah berusia 53 tahun. Bayangkan, di usia 53 tahun, dengan tugas kenabian yang berat, berdakwah ke penjuru dunia, dari jazirah Arab sampai Eropa. Menjadi pemimpin Arab. Apakah mungkin Rasulullah menghabiskan waktunya hanya dengan berasyik masyuk dengan perempuan?
Istri-istrinya adalah istri pilihan Allah. Sejarah pernikahannya mengandung pelajaran fiqih untuk umat Islam. Sebelum menikahi Aisyah, Rasulullah bermimpi malaikat Jibril menampakkan wajah Aisyah dan berkata, “ini istrimu….” Rasulullah, manusia mulia sepanjang jaman, menikah dengan Aisyah saat umur istrinya baru berumur 9 tahun. Tentu pada masa sekarang, hal itu sangat tidak biasa. Menikah dengan anak kecil, belum haid, dianggap perbuatan kotor, pedofilia. Tetapi, tahukah Anda, bahwa pada jaman dulu, gadis-gadis memang dinikahkan sejak masih kecil. Itu sudah menjadi TRADISI. Itu kebiasaan yang berkembang pada jaman dulu, bukan hanya di Arab. Sekarang saja yang sudah bergeser. Malahan gadis-gadis menikah setelah melewati masa reproduksi. Tak heran jika Eropa kekurangan penduduk, karena jumlah wanita yang melahirkan anak semakin menurun. Selain para wanitanya tidak mau menikah, tidak mau punya anak, juga usia menikah yang sudah melewati usia produktif untuk melahirkan. Umur 35 tahun, baru memutuskan untuk menikah. Kalau di zaman Rasulullah, usia segitu sudah dianggap tua, sudah nenek-nenek. Jadi, AMATLAH WAJAR jika Aisyah dinikahkan pada usia 9 tahun. Tetapi, yang harus diketahui, Aisyah baru menjadi istri dalam arti sebenarnya setelah mendapatkan haid. Rasulullah menunggu sampai Aisyah mendapatkan haid.
Pada zaman Rasulullah pun, sudah menjadi hal yang wajar seorang pria memiliki istri lebih dari satu, sebagaimana wajarnya di zaman sekarang, seorang pria mempunyai istri hanya satu. Jadi, kalau ada suami yang menikah lagi, istri-istrinya menganggap itu WAJAR dan BIASA SAJA. Kalaupun ada cemburu, itu pun wajar. Siapa yang tidak cemburu? Tapi, pernikahan poligami bukan hal yang ditentang. Bukan hanya bangsa Arab saja yang begitu. Kaisar-kaisar Cina, Jepang, dan Korea pun punya istri banyak, ditambah selir-selir. Bahkan kaisar Cina selirnya ribuan. Kalau mau digilir, harus diundi dulu. Raja-raja Jawa pun memiliki istri lebih dari satu. Selain istri, Rasulullah juga memiliki budak-budak wanita, dan sebagaimana tradisi zaman dulu, budak-budak pun halal untuk digauli. Budak adalah manusia yang diperjualbelikan. Budak boleh diperlakukan apa saja oleh majikannya, termasuk digauli. Mariatul Qibtiyah, mulanya adalah budak Rasulullah. Dan sebagaimana tradisi zaman dulu, Maria boleh digauli. Setelah Maria melahirkan Ibrahim, Rasulullah menikahinya. Seiring berjalannya waktu. Islam menghapuskan perbudakan. Bahkan, poligami hanya dibatasi sampai empat. Dan Allah menekankan, boleh menikahi 1,2,3, 4 wanita, tetapi bila tidak bisa berbuat adil, cukup 1 saja. Maha besar Allah dengan segala firman-Nya.
Al Quran diturunkan melalui Rasulullah Muhammad Saw untuk memperbaiki masyarakat, memberikan tuntunan yang sesuai dengan kemanusiaan manusia. Semua perkataan dan perbuatan Rasulullah, adalah atas kehendak Allah. Termasuk ketika ia menikahi istri-istrinya. Zainab dinikahi Rasulullah atas perintah Allah, untuk mengajarkan fiqih kepada umat Islam, bahwa seorang laki-laki boleh menikahi mantan istri anak angkatnya, karena antara orang tua dan anak angkatnya tidak ada hubungan nasab/ keturunan. Rasulullah pun sebenarnya tidak mau menikahi Zainab, karena khawatir memancing omongan tidak enak dari orang-orang. Tetapi, bila Allah sudah menetapkan, maka manusia harus taat.
Subhanallah… betapa luhur akhlak Rasulullah. Sewaktu kecil, dadanya dibelah oleh malaikat Jibril, dan dibersihkan dari kotoran. Sewaktu diangkat jadi nabi, perkataan dan perbuatannya adalah manifestasi Al Quran. Sungguh, Rasulullah adalah manusia yang terbebas dari dosa, termasuk semua tuduhan-tuduhan keji para orientalis Barat yang berusaha menjatuhkan pribadi Rasulullah, adalah sangat keji dan tidak berdasar. Pernikahan Rasulullah dengan istri-istrinya adalah pernikahan yang indah, bahkan ada yang diperintahkan langsung oleh Allah melalui firman-Nya. Semua untuk memberikan pelajaran bagi umat Islam. Terbukti, sebelum turunnya wahyu, Rasulullah HANYA memiliki satu istri, Khadijah.

READMORE - Di Balik Sejarah Poligami Rasulullah

Kamis, Januari 27, 2011

Prestasi dan Prestise






Allah Tujuanku

Saya akan memulai tulisan ini dengan beberapa firman dari Allah dan petuah kekasihNya, Rasulullah SAW

                                                                                                                                     

“…maka berlomba-lombalah kamu dalam hal kebaikan…” (QS Al-Baqarah 148)                     

                                                                                                                                     

“…sungguh yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling tinggi ketaqwaannya…” (QS Al-Hujurat 13)                                                                               

                                                                                                                                     

“…sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.” (HR Bukhari)                                                                                                                                                                                                                                              

                                                                                              
Kawan, tiga buah hujjah di atas sedang berbicara pada kita tentang satu hal, prestasi. Prestasi adalah suatu hal yang sangat penting, sehingga dia menjadi pantas diserukan dalam Al-Qur’an dan hadits Rasul. Berprestasi sebenarnya menjadi tuntutan bagi setiap muslim, karena harga seorang muslim di hadapan Allah nantinya ditentukan oleh prestasi taqwa yang dia ukir selama hidup di dunia. Allah dan Rasul memberikan sebuah pattern bahwa yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah yang paling tinggi prestasi taqwa-nya.

Tapi sadar kita atau tidak, ada saudara kembar yang selalu hadir bersama prestasi, yaitu prestise, kebanggaan. Prestasi dan prestise adalah dua hal yang mungkin akan selalu hadir bersama. Ketidakbijakan kita untuk menempatkan mereka dengan baik bisa berujung petaka bagi kita, kalau tidak akan di dunia, mungkin petaka di akhirat. Yang harus kita sadari adalah bahwa prestise hanyalah merupakan konsekuensi logis ketika prestasi luar biasa telah terukir. Prestise seharusnya bukanlah sesuatu yang menjadi alasan dan membuat kita mau bergerak. Lihatlah apa yang didapatkan oleh manusia-manusia sekelas Abu Bakar Siddiq, Khalid bin Walid, Muhammad Al-Fatih, Thariq bin Ziyad, sampai Hasan Al Banna. Mereka adalah manusia-manusia yang bergerak karena dorongan nuraninya, karena kecintaan dan kepatuhan pada Tuhannya, mengukir prestasi-prestasi yang sangat agung, sehingga prestise adalah suatu hal yang hadir dengan sendirinya, bukanlah hal yang mereka kejar.

Namun sebaliknya, mungkin banyak di antara yang sering terjebak pada kondisi dimana kita sering berpikir prestise terlebih dahulu, sering berpikir ketenaran atau keterkenalan di awal. Sehingga tak jarang fokus pada prestise itulah yang membuat kita tak pernah mengukir prestasi, ataupun kalau prestasi itu pernah hadir hanya akan menjadi prestasi di mata manusia saja, tidak di mata Allah. Bukankah kita sudah sama-sama tahu, betapa penting yang namanya niat, betapa sangat menentukan yang namanya niat, seperti yang diungkapkan dalam Hadits Arba’in yang pertama, “sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya…”. Jika prestise menjadi niat utama kita bergerak, maka akan sangat rugi lah kita, karena ia hanya akan menjadi fatamorgana saja, begitu “wah” di mata manusia tapi nol besar di mata Allah.

Kuingin ingatkan pada pribadi ini dan pada kawan-kawan semua, berhati-hatilah. Luruskan lagi niat di setiap gerak dan ibadah kita, di setiap tegak dan sujud kita. Buang jauh-jauh perasaan mau bergerak karena hanya mengejar sebuah prestise, tapi bergeraklah karena kita sama-sama ingin berprestasi di mata Allah. Semoga setiap helaan nafas kita menjadi bagian prestasi yang akan terukir indah dan akan menjadi penolong kita nanti di hadapan Allah.

Terakhir, sebuah pertanyaan renungan, sudah adakah prestasi yang kita ukir sampai detik ini yang bisa kita banggakan di hadapan Allah kelak??’

Wallahu’alam bisshawab


sumber : www.dakwatuna.com
READMORE - Prestasi dan Prestise

Senin, Januari 17, 2011

Muhammad SAW “The Super Leader Super Manager”

Mengkaji perjalanan hidup Rasulullah SAW adalah bagaikan mengarungi lautan tak bertepi karena sangat luas, kaya dan mencerahkan. Keluasan suri tauladan Muhammad SAW mencakup semua aspek hidup dan kehidupan.

Selama ini faktor lain yang mereduksi nilai keteladanan leadership dan manajemen Rasulullah SAW adalah ketidakmampuan melihat perjalanan hidup Rasulullah SAW secara lengkap dan holistic baik dimensi sosial, politik, edukasi, dan legal untuk kemudian memformulasikannya dengan nilai-nilai keteladanan tersebut kedalam suatu model yang dapat diteladani dengan mudah.

Saat ini cara pandang kebanyakan kita terhadap Rasulullah SAW adalah one sided. Artinya hanya menjadikan Muhammad SAW sebagai pemimpin keagamaan saja. Daerah teritorialnya hanya di mesjid, mushalla dan panutan saat kita shalat saja, tetapi bila kita sudah keluar dari masjid, dan masuk ke bank atau lembaga keuangan lainnya, maka suri tauladannya ditinggalkan. Ketika kita melakukan ekspor-impor petuahnya tentang kejujuran diabaikan.

Saat musim maulid (peringatan kelahiran Rasulullah SAW) tiba, banyak di antara kita yang membaca shalawat-shalawat panjang, diba dan barzanzi. Tetapi semua itu sebatas dikumandangkan di masjid, madrasah, dan rumah-rumah saja. Saat kita kembali ke kantor, ternyata kantor kita kosong dari nilai-nilai akhlak dan keluhuran budi pekerti seperti yang diajarkan barzanzi. Tidak ada sepotong hadits pun, yang jumlahnya puluhan ribu itu, termuat dalam manual dan Standard Operating Procedure (SOP) perusahaan kita. Demikian juga halnya dengan corporate culture institusi kita nun jauh dari ajaran akhlak mulia yang didakwahnya. Walhasil shalawat terus kita baca, barzanzi selalu kita kumandangkan tetapi perusahaan kita semakin jauh dari teladan Rasulullah SAW. Bahkan tidak jarang semakin hari semakin dekat ke budaya Yahudi dan kapitalistik. Si kuat memakan si lemah. Profit jauh lebih diutamakan dari akhlak dan syariah.

Dengan kepiawan sang penulis Muhammad Syafii Antonio memformulasikan buku ini dalam bentuk tulisan, gambar dan warna yang menarik dan mudah untuk dipahami. Tulisan ini Syafii Antonio ini sangat kaya dengan sumber-sumber tertulis. Ini bisa terlihat dari sumber dan sanad catatan kaki di sepanjang halaman yang menceritakan tentang Rasulullah SAW. Tidak hanya untuk paragraf panjang saja, bahkan walaupun hanya dua alinea penulis menyertakan sumber tertulisnya.

Sistematika buku ini dibagi dalam 4 bagian utama yang terdiri dari 12 bab. Bagian I terdiri dari 2 bab yaitu bab 1 sebagai Mukaddimah dan bab 2 berisi pembacaan terhadap konsep-konsep manajemen dan leadership modern. Bagian II memuat 1 bab yakni bab 3 berupa survey of literature terhadap berbagai tulisan dan kajian klasik tentang Muhammad SAW. Tujuan utama dari bagian II adalah untuk menunjukkan bahwa betapa masih banyaknya suri tauladan Muhammad SAW yang masih harus digali dengan penuh ketekunan dan kesabaran tetapi juga mengasyikkan.

Bagian III berisi 8 bab yang merupakan isi pokok dari buku ini seperti dijelaskan di atas. Bagian IV terdiri dari 12 bab yang merupakan bab penutup berupa epilog. Di bagian akhir buku disertakan juga appendix, index dan daftar pustaka.

Berikut adalah sekelumit deskripsi penulis tentang Muhammad SAW sebagai pemimpin bisnis dan entrepreneurship dalam bab 5 : Salah satu aspek kehidupan Muhammad SAW yang kurang mendapat perhatian serius adalah kepemimpinan beliau di bidang bisnis dan entrepreneurship. Muhammad SAW lebih dikenal sebagai seorang rasul, pemimpin masyarakat atau ‘negara’, dan pemimpin militer. Padahal sebagian besar kehidupannya sebelum menjadi utusan Allah SWT adalah seorang pengusaha. Ia telah memulai merintis karir dagangnya ketika berumur 12 tahun dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan ini terus dilakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu. Angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulan beliau yang berlangsung selama ± 25 tahun ketika beliau menerima wahyu. Angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulan beliau yang berlangsung selama ± 23 tahun.

Aspek bisnis Muhammad SAW ini juga luput dari perhatian kebanyakan orientalis. Mungkin karena dianggap kurang kontroversial dan tidak menarik dalam perdebatan teologis. Sebagian mereka juga sering melancarkan serangan terhadap pribadi Muhammad SAW tetapi jarang sekali yang mengkaji secara mendalam prilaku bisnis beliau. Kewirausahaan (entrepreneurship) tidak terjadi begitu saja tetapi hasil dari suatu proses yang panjang dan damai dan dimulai sejak beliau masih kecil. Hal ini sesuai dengan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Collin dan Moores (1964) dan Zalzenik (1976) yang berkesimpulan bahwa “The act of entrepreneurship is an act patterned after modes of coping with early childhood experience”. Pendapat seperti ini diamini oleh kebanyakan guru leadership yang sepakat bahwa apa yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan kita akan membuat perbedaan yang berarti dalam periode kehidupan berikutnya.

“Many greatmen started as newspaper boys” kata orang bijak. Untuk menjadi seorang pemimpin atau wirausaha yang tangguh, pengalaman masa kecil itu tidak selamanya positif atau menyenangkan. Sebuah penelitian terhadap beberapa pemimpin yang dilakukan oleh Manfred Kets de Vries (1995) berkesimpulan bahwa kerasnya kehidupan masa kecil menimbulkan dorongan untuk memimpin.

Because of the hardships they have encountered, many of them seem to be one mission: they are going to prove the world wrong: they are going to show everyone that they can amount to something. Many of them, suffering from what could be called the Count of Monte Cristo complex (after Alexander Duma’s novel), go even further, they have a very strong need to get even for the wrongs done to them at earlier periods in their lives. (Joseph dan Jimmie Boyett. 1998. The Guru Guide, the Best Ideas of the Top Management Thinkers. New York : John Wiley & Son. Hal. 49)

Dalam konteks Muhammad SAW, beliau mempunyai pengalaman yang pahit dengan terlahir sebagai anak yatim. Beliau sempat mempunyai pengalaman yang menyenangkan ketika diasuh oleh Halimah, setelah sempat berbahagia hidup bersama ibunya. Muhammad kecil menjadi yatim-piatu ketika berumur 6 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, dan setelah wafat, dilanjutkan oleh pamannya Abu Thalib. Sayangnya, Abu Thalib merupakan salah satu anak Abdul Muthalib yang paling sederhana hidupnya, sehingga tak jarang Muhammad kecil harus membantu ekonomi keluarga sang paman dengan bekerja ‘serabutan’ kepada penduduk Makkah. Pengalaman kecil seperti inilah yang menjadi modal psikologis beliau ketika menjadi seorang wirausaha di kemudian hari.

Pekerjaan menggembala ternak merupakan pekerjaan yang umum dilakukan oleh para nabi dan rasul, seperti Musa, Daud dan Isa. Menurut catatan sejarah, dimasa kecil Muhammad SAW pernah menggembala ternak penduduk Makkah. Muhammad SAW pernah mengatakan, “semua nabi pernah menggembala ternak”. Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan Anda ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Allah tidak mengutus seorang nabi melainkan dia itu pernah menggembala ternak.” Sahabat kemudian bertanya lagi, “Anda sendiri bagaimana Rasulullah?” beliau menjawab “Aku dulu menggembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.

Pekerjaan menggembala ternak merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian leadership dan manajemen yang baik. Para penggembala harus mampu mengarahkan ternaknya ke padang gembalaan yang subur dengan rumput menghijau. Di samping itu, mereka juga harus dapat mengendalikan hewan ternaknya agar tidak tersesat. Mereka juga harus melindungi ternaknya dari berbagai gangguan seperti dari hewan pemangsa dan para pencuri. Ini semua merupakan bentuk fungsi kepemimpinan dan manajemen. Mungkin latar belakang seperti ini memang digariskan Allah SWT kepada calon rasul yang akan mengemban risalah kenabian dan memimpin umat.

Perjalanan karir Muhammad SAW di bidang perdagangan dapat dirumuskan sebagaimana berikut : Muhammad SAW telah mengenal perdagangan di usia 12 tahun atau diistilahkan dengan magang (internship). Hal ini terus dilakukan sampai usia 17 tahun ketika beliau telah mulai membuka usaha sendiri. Waktu itu pamannya menganjurkan beliau untuk berdagang agar beban keluarga mereka dapat berkurang. Dengan demikian pada usia ini beliau sudah menjadi seorang business manager. Dalam perkembangan selanjutnya ketika pemilik modal Makkah mempercayakan pengelolaan perdagangan mereka kepada Muhammad SAW, beliau menjadi investment manager.

Ketika beliau menikah dengan Khadijah dan terus mengelola perdagangannya, maka status beliau naik menjadi bussiness owner. Ketika usia beliau menginjak pertengahan 30-an, beliau menjadi seorang investor dan mulai memiliki banyak waktu untuk memikirikan kondisi masyarakat. Pada saat ini beliau sudah mencapai apa yang diistilahkan Robert Kiyosaki sebagai kebebasan uang (financial freedom) dan waktu.

Inilah sekelumit kisah Rasulullah yang ada dalam buku setebal 320 halaman. Masih banyak kisah menarik lainnya tentang pribadi beliau yang memang layak ditiru.
READMORE - Muhammad SAW “The Super Leader Super Manager”

Pengemis Buta dan Rasulullah SAW


Dalam rangka memperingati maulid nabi Muhammad SAW, membaca dan menyimak kembali sejarah perjalanan hidup beliau tentu sangat tepat. Salah satunya adalah kisah di bawah ini. Setiap kali Mr.Umembaca kisah ini, air mata haru, takjub, sedih sekaligus bangga serta rasa rindu yang teramat dalam menyesaki dada.
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”.
muhammad-rasulullah
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abu Bakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”
“Apakah Itu?”, tanya Abubakar RA.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana”, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik.
“Siapakah kamu?“ Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)”.
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq. Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya 
sumber : http://mrumedia.wordpress.com

READMORE - Pengemis Buta dan Rasulullah SAW

Sponsorship

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template