Rabu, Desember 15, 2010

Profile of The Own of This Blog

Assalamu alaikum Wr.WB
Saudara Sebangsa, Seagama dan Setanah Air dan Seplanet Bumi dimana pun ente berada...

Ladies & Gentlemen....worldwide!!!!
Let me Introduce My self.
Name : Adi Akmal
I Was born in small village in Herlang, Bulukumba, South Sulawesi 23 Years ago.
My Friends say that i have many ambition to be leader,ceileee,Insya Allah,Amin....
Kagak bang,akhi,daeng,sobat,Mas....
Dhymalk just dhymalk....
Same with NIKE's slogan ....No gameS,,,Just Sport.....

hihihihi
Tapi dalam hati nurani tetap ALLAH JADI TUJUAN>>>>
SO PASTI>>>>>

It's True..Islam My life
Muhammad is My Prophet
Holy Qur'an is My Guide
Syahid is My Highest Ambition....


Welcome To My Life




Best Regard 


Adi Akmal,S.E
READMORE - Profile of The Own of This Blog

ZINA, TOBAT DAN INGIN NIKAH


Tanya: Saya punya teman wanita dan sudah berhubungan sekitar 2 tahun backstreet, karena ortu (orang tua) dia belum memberi izin anaknya berhubungan dengan lain jenis. Umurnya 2 tahun lebih muda dari saya. Namun, innalillahi, kami sungguh menyesal, kami telah melakukan ZINA. Dan itu sudah sering dilakukan. Kami sudah mencoba untuk menahannya, tapi kami selalu gagal.
Kami tak ingin seperti itu lagi. sudah dicoba berbagai cara misalnya, tidak berduaan, tidak ketemu-ketemu dahulu, tapi paling bertahan cuma sebulan. Setelah itu kami selalu ingin bertemu, dan akhirnya terulang lagi seperti itu. Sekarang kami punya pikiran untuk menikah agar tidak disebut Zina. Namun masalahnya, kami masih sama-sama kuliah dan kami yakin orang tua kami pasti tidak setuju. Karena kami juga belum punya apa-apa, tapi kami pun tak ingin berpisah lama.
Pertanyaan saya:
  1. Apakah boleh kami menikah dengan wali (wali hakim, red), secara diam-diam, tanpa sepengetahuan orang tua? Sebab kami yakin orang tua kami tak akan memberi izin.
  2. Apakah nanti, seandainya kami telah menikah dengan wali, dan ingin menikah dengan restu orang tua, apakah kami harus menikah dua kali, atau harus bercerai dulu, kemudian baru menikah lagi dengan “resmi”?
  3. Kami sudah menyatakan Tobat kepada Allah, dan benar benar niat di hati. Tapi kemudian kami lepas kendali. Apakah kami akan ditambah dosanya, karena kami sepertinya mempermainkan Dia (Allah) ?
  4. Kami ingin benar benar tobat, tapi kami tak ingin berpisah lama, bagai-manakah caranya?
    Jazzakumullah Khairan Katsiraa. Terimakasih,
Jawab: Kami jawab langsung:
  1. Pertanyaan yang benar barangkali begini: Bolehkah saya menikah dengan mengangkat orang lain sebagai wali? Sebab yang dimaksud wali dalam pernikahan adalah, ayah si perempuan, kalau ayah tidak ada ya kakak atau adik laki-laki, dan kalau kakak, adik juga tidak ada, maka beralih pada paman, dan kalau semuanya itu tidak ada, maka beralih ketangan penghulu (wali hakim). Sedangkan maksud anda adalah akad nikah yang dilangsungkan bukan oleh ayah akan tetapi orang lain. Adapun jawabannya, dalam keadaan seperti yang anda ceritakan saya kira anda boleh melangsungkan pernikahan dengan penghulu (pegawai pemerintah yang berwenang dalam hal ini) sebagai walinya, dengan alasan bahwa wali yang semestinya (ayah), telah melakukan ‘Adll (tidak mau menikahkan) yang berakibat pada mafsadah (dampak negatif). ‘Adll merupakan perbuatan yang dilarang oleh agama (Walaa ta’dluluhunnah), dan jika ‘Adll itu mendatangkan kemafsadahan (dampak negatif) maka soal perwalian beralih ke tangan penghulu, dan pernikahan ini sah, tidak perlu diulang. Dan kalau terpaksa harus diulang karena permintaan orang tua atau belum tercatat di KUA atau sebab lainnya maka tidak perlu bercerai lebih dahulu, sebab pengulangan akad nikah tidak berarti membatalkan akad nikah yang pertama.
  2. Mudah-mudahan rasa menyesal anda dan keinginan untuk bertobat setiap kali anda melakukan dosa besar itu dapat meringankan dosa anda, kalau anda benar-benar tidak bermaksud mempermainkan peraturan Tuhan tetapi hanya karena tidak kuat menghadapi godaan setan.
  3. Keinginan anda itu mustahil, anda seperti seorang perokok yang mengidap penyakit cukup gawat dan sadar bahwa satu-satunya hal yang dapat memperingan penyakit anda adalah berhenti dari merokok, tetapi anda tetap ingin merokok dan penyakitnya sembuh. Dalam soal zina al-Qur’an tidak mengatakan : “Jangan kalian berzina”, tetapi kata al-Qur’an : “Jangan kalian mendekati perzinaan”. Itu menunjukkan bahwa zina itu sangat gawat, sampai mendekati saja tidak boleh. Seperti yang anda katakan bahwa ketika bertemu kembali setelah menahan diri untuk bertemu dengan kekasih, maka perzinaan itu terjadi lagi. Jadi, pertemuan itu merupakan perbuatan “mendekati” atau muqaddimah (awal) dari dari perzinaan, dan oleh karenanya pertemuan itu merupakan sesuatu yang dilarang. Kalau anda benar-benar bertobat, tentu tidak akan coba-coba untuk mengadakan pertemuan lagi, sebab tobat adalah penyesalan yang mendalam yang membuat hati seseorang tidak mempan lagi dengan iming-iming atau amang-amang.
  4. Kisah orang bertobat berbeda-beda, ada yang diberi kelapangan dada secara langsung, ada yang bertobat setelah melihat keajaiban tuhan, ada yang menyesali perbuatannya setelah merasakan suatu musibah, dll. Oleh karena itu sambil selalu berdo’a mudah-mudahan mendapat petunjuk, carilah cara apa saja yang dapat menumbuhkan rasa takut dan menyesal yang dalam atas perbuatan terkutuk itu, salah satunya adalah dengan mengingat kematian, bayangkan anda mau mati hari ini, bayangkan sempit dan gelapnya liang kubur, tidak ada teman siapapun apalagi kekasih yang dapat menolong kecuali amal saleh.
Sumber: KH. Mukhlas Hasyim (Dewan Asaatid Pesantren Virtual)
READMORE - ZINA, TOBAT DAN INGIN NIKAH

Islam di Tanah Tiongkok

A. SEJARAH

Islam masuk ke negeri Tiongkok, menurut catatan sejarah yaitu pada akhir masa Dinasti Sui/menjelang berdirinya Dinasti Tang (abad ke 7 M), pada awalnya dibawah oleh saudagar-saudagar arab yang datang di sekitar bandar kanton (guang dong),dan bandar quanzhou (bahkan sampai sekarang masih ada keturunan arab tinggal di kota ini dan banyak makam para ulama islam tionghoa keturunan arab di kota quanzhou tersebut

Islam mengalami masa kegemilangan pada zaman Dinasti Ming (1368-1644), pada masa sebelumnya,Dinasti Yuan (1279-1368), orang-orang muslim banyak menduduki pos-pos penting di pemerintahan, seperti jabatan di berbagai jawatan kementerian serta sekretariat negara, dinasti yuan adalah dibangun oleh suku mongolia di tiongkok, orang mongolia memang mahir berperang namun tidak mengerti administrasi dan pengelolahan negara oleh karena bangsa han yang ditaklukannya lebih maju peradapannya maka timbul keinginan untuk mengangkat turunan muslim untuk menduduki jabatan negara karena faktor politik tidak memungkinkan mengangkat orang-orang han pada waktu itu,namun bukan berarti waktu itu umat islam tidak mengalami tekanan ,karena ada perbedaan budaya yang besar sekali antara pemerintah mongol dan kebanyakan muslim pada saat itu sehingga menimbulkan orang muslim juga diperlakukan tidak adil sehingga mempelopori berdirinya dinasti ming dengan mengadakan perlawanan terhadap pihak dinasti yuan, kemudian pada masa dinasti ming itu banyak pejabat negara yang beragama islam,dan pernah kaisar ming cheng zhu,mengirim misi muhibah persahabatan yang dipimpin oleh laksaman zhenghe yang muslim menuju ke negara asia tenggara,india,semenanjung arab dan afrika barat,setelah dinasti ming runtuh bangsa man dari utara menggantikan pemerintahan ming mendirikan dinasti qing,pada zaman itu umat islam yang tinggal di china barat laut mendapat tekanan dari kerajaan qing,karena banyak umat islam pada waktu itu mendukung dinasti ming,banyak perlawanan yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan muslim pada waktu itu kepada dinasti qing,dan belakangan diikuti oleh orang-orang han sehingga pendiri republik tiongkok (republic of china) dr.sun yat zen (sun zhong shan) di dalam san min zhu yi(tiga landasan pokok negaranya mengakui keberanian pahlawan-pahlawan muslim sebagai sumber inspirasi utama perjuangan kebebasan negara tiongkok modern,pada masa republik tiongkok/republic of china (1911-1949) umat islam banyak menduduki pos-pos kementerian negara,dan menjadi petinggi partai kuo min tang,pada waktu itu banyak madrasah didirikan, menurut catatan pemeintah nasionalis kuo min tang yang sampai sekarang menguasai taiwan,di beijing hampir ada 40 masjid,hingga kini dibawah pemerintahan komunis republik rakyat china tinggal 3 masjid,sisanya di alih fungsikan sebagai pabrik.

keadaan muslim sesudah berdirinya republik rakyat china/the people's republic of china (1949-) di bawah gong chan tang/partai komunis china sebagai partai tunggal dalam negara pada mulanya sangat sulit,terutama pada saat revolusi

kebudayaan (1966-1976), waktu itu umat islam dan umat beragama lain dilarang beribadah, al-qur'an dibakar dan tidak diperkenankan untuk membacanya, masjid-masjid ditutup dan dialih fungsikan untuk kepentingan olahraga, setelah era keterbukaan (1980-sekarang), umat islam kembali menghirup udara segar,masjid-masjid berfungssi kembali segala kegiatan islam berkembang pesat, taraf kehidupan muslim juga maju. Sekarang ini telah ada Asosiasi Islam Republik Rakyat China(zhongguo yisilan xie hui), juga banyak pusat kajian islam dan pesantren berdiri,seperti salah satunya qinghai koran institute, di ibukota propinsi qinghai,xining.bahkan sebagian produk makanan di china telah mencantumkan produk halal atas rekomendasi dari asosiasi islam RRC,sekarang bahkan pemerintah telah memfasilitasi haji lewat beijing dan lanzhou(propinsi gansu),beberapa wilayah yang mayoritas muslim diberikan hak otonomi untuk melaksanakan kebebasan beragama dan menjalankan kebudayaannya sendiri,bahkan banyak orang tua muslim yang menyekolahkan anak-anaknya ke timur tengah untuk memperdalam islam.
B. Peranan Muslim China terhadap Negaranya:

1. Bidang agama dan Pendidikan:

banyak cendekiawan islam sekarang ini yang mahir dalam ilmu-ilmu keislaman,seperti majihan(alumnus univ al-azhar) yang menerjemahkan qur'an dari bahasa arab ke bahasa tionghoa,dan kemudian salinan terjemahannya dijadikan acuan cetak oleh pemerintah arab saudi untuk mencetak terjemahan qur'an bahasa tionghoa yang telah disebarkan ke seluruh dunia,kemudian wang jingzhai yang menejemahkan qur,an dalam bahasa tongkok dalam tiga tahapan yaitu terjemahan ilmiah,sederhana dan mudah supaya dapat dipelajari oleh pembaca yang mempunyai tahapan pengetahuan yang berbeda,dll.

2.Bidang Iptek:

Pertama-tama orang tiongkok yang mengembangkan penemuan bangsa han adalah orang-orang islam seperti,mesiu orang islam yang pertama-tama memanfaatkan untuk dibuat bahan senjata meriam sehingga meriam pertama kali disebut hui hui canons (hui+muslim),kedua dengan tekhnologi kompas ma zheng he(ma san bao),mengadakan pelayaran muhibah persahabatan dengan negara-negara lain di luar tiongkok.

3. Bidang Pemerintahan dan Militer:

orang-orang muslim selalu dalam barisan nomor depan dalam masalah-masalah kenegaraan,seperti dapat kita lihat sejak zaman dinasti tang, song, yuan, ming hingga pemerintahan republik nasionalis,selalu menempati pos kementerian negara dan jawatan penting lainnya serta dalam bidang militer umar bai zhong si seorang jenderal kuo min tang di masa republik nasionalis telah menyumbangkan keberaniannya demi negara di dalam memimpin tentara republik menghadang agresi jepang.

C.Kondisi Sekarang

Republik Rakyat China dengan populasi yang hampir 1,5 milyar,memiliki 56 suku,dengan bangsa han menduduki 92%, sisanya adalah suku minoritas, tapi mayoritas bangsa han tidak beragama sebagian kecilnya menganut budha, tao dan belakangan ini ada yang nashrani, sedangkan suku yang memeluk agama islam adalah suku hui, suku uighur, tajiks, uzbeks, kazakh, tatar, salar, bao'an, dong xiang dan kirgiz. Mereka banyak tinggal di wilayah bagian barat laut, timur laut dan bagian utara tiongkok, seperti di daerah Propinsi Gansu, Propinsi Qinghai daerah otonomi Ningxia dan daerah otonomi Xinjiang (4 daerah mayoritas), Propinsi Shaanxi, Shan xi, Yunan, bagian barat daerah otonomi Mongolia dalam, Propinsi Taiwan dan ibukota Beijing. Secara kasar oleh orang asing yang tidak belajar kebudayaan Tiongkok menggangap bangsa Tionghoa dalah orang Han saja, tapi suku miniritas lainnya juga termasuk bangsa Tionghoa.

kata islam dalam bahasa Tionghoa disebut Huijiao (karena identik dengan suku Hui),atau Qingzhen Jiao (merujuk pada kata Qing jernih, murni dan zhen yang berarti sungguh, asli, atau terjemahan arb dari kata halal, karena orang muslim tidak makan babi dan minum arak, juga kebiasaan muslim tiongkok yang tidak merokok. Masjid dinamai qingzhen si), atau disebut pula tianfang jiao merujuk pada kata tianfang yang berarti rumah Tuhan/baitullah, baru belakangan disebut yisilan jiao, penganutnya disebut huizu (merujuk pada suku hui) atau musilin(muslim), peninggalan berupa masjid, yang tertua di kota guangzhou (propinsi guangdong) masjid huai sheng, dibangun pada masa dinasti Tang, masjid feng huang di kota hangzhou (propinsi zhejiang), dibangun pada masa dinasti song utara,masjid quanzhou dipropinsi fujian juga dibangun pada masa dinasati tang,kemudian masjid tian e di kota yangzhou( propinsi zhe jiang).selain itu masjid lainnya yang terkenal adalah masjid niujie, masjid huashi dan masjid dongsi di kota beijing yang berasitektur khas tiongkok,,masjid shaan xi di kota xi'an,masjid dongguan di kota xinning serta masjid ai di ga di daerah kashi di xinjiang yang disebut masjid terbesar di china/dalam perayaan idul kurban bisa menampung 7000-8000 jama'ah. Yang menarik perhatian; muslim di tiongkok merayakan idul kurban lebih meriah dan lebih besar dari perayaan idul fitri.
READMORE - Islam di Tanah Tiongkok

Âsyura` Dalam Perspektif Islam

  1. ‘Âsyûrâ’ Dalam Perspektif Islam
    Secara Bahasa berasal dari kata ‘al-Aysr’ , yang maknanya sepuluh . Sedangkan kata ‘Âsyûr’â’ maknanya adalah hari yang ke-sepuluh. Maksudnya adalah ke-sepuluh dari bulan Muharram. (Lisân al-‘Arab: 569)

    Di hari ‘Âsyûr’â’ ini ada peristiwa bersejarah yang terjadi sebelum datangnya Islam, yaitu diselamatkannya Nabi Musa ‘alaihissalâm bersama kaumnya, Bani Israil dari kejaran Fir’aun bersama wadyabalanya yang ditenggelamkan oleh Allah di laut.
    Ulama Ahlussunnah sepakat bahwa pada hari 10 Muharram disyari’atkan untuk berpuasa. Ibnu Abbas mencerita-kan :
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura ( tanggal 10 Muharram), maka beliau bertanya: “Hari apakah ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari itu karena syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian”, maka Nabi berpuasa Asyura’ dan memerintah-kan puasanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    Para ulama menyebutkan 3 tingkatan Puasa ‘Âsyûr’â’ :
    Tingkatan Pertama, Puasa 3 hari : tanggal 9, 10 dan 11
    Tingkatang Kedua, Puasa 2 hari: tanggal 9 dan 10
    Tingkatan Ketiga, Puasa 1 hari : yaitu tanggal 10 saja (Fiqh as-Sunnah: 1/595)

  2. Hikmah di Balik Disyari’atkannya Puasa ‘Âsyûr’â’
    Berdasarkan tiga tingkatan diatas, maka ada hikmah di balik dianjurkannya kita berpuasa ‘Âsyûr’â’ sebagaimana yang dilakukan oleh Bani Israil, yaitu agar kita menyelisihi Ahl al-Kitab.
    Dalam hadits disebutkan bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Asyura’ itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan.” (HR. Muslim (1134) dari Ibnu Abbas).
    Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya :
    “Berpuasalah pada hari Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Fathul Bari, 4/245). Imam Syafi’i juga meriwayatkan hadits di atas, makanya beliau di dalam kitab Al-Um dan Al-Imla’ menyatakan kesun-nahan puasa tiga kali tanggal 8, 9 dan 10 Muharram. (al-Ibdâ’, Ali Mahfudz : 149; Fath al-Bâry: 4/246).


    Keutamaan Puasa ‘Âsyûr’â’
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa ‘Âsyûrâ’, maka beliau menjawab yang artinya : “Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim (1162), Ahmad 5/296, 297).
    Karena itu, pantas jika Ibnu Abbas menyatakan : “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya selain hari ini (Asyura’) dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan).” (HR. al-Bukhari (2006), Muslim (1132)).
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram”. (HR. Muslim,1163).


    Bid’ah-bid’ah Seputar ‘Âsyûrâ’
    10 Muharram 61 H adalah hari terbunuhnya Abu Abdillah Al-Husen bin Ali (ra) di padang Karbala. Karena peristiwa berdarah ini, setan berhasil menciptakan dua kebid’ahan sekaligus.
    Pertama : Bid’ah Syi’ah
    ‘Âsyûr’â’ dijadikan oleh kaum Syi’ah sebagai hari berkabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai ungkapan dari kesedihan dan penyesalan. Pada setiap ‘Âsyûr’â’, mereka memperingati kematian al-Husain dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi al-Husen secara histeris, membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya. (at-Tasyayyu’ Wa asy-Syî’ah , Ahmad al-Kisrawiy asy-Syî’iy, hal. 141, Tahqiq Dr. Nasyir Al-Qifari).
    Kedua : Bid’ah Sebagian Orang Yang Berafiliasi Kepada Ahlissunnah
    Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi’ah di atas, sebagian dari orang yang berafiliasi kepada Ahlussunnah yang Jahil, menjadikan hari ‘Âsyûr’â’ layaknya sebagai hari raya, pesta dan serba ria.
    Menurut Ahmad al-Kisrawy asy-Syî’iy: “Dua budaya (bid’ah) yang sangat kontras ini, menurut literatur yang ada bermula pada jaman dinasti Buwaihi (321H – 447 H.) yang mana masa itu terkenal dengan meruncingnya pertentangan antara Ahlus-sunnah dan Syi’ah.
    Sebagian kalangan yang berafiliasi kepada Ahlussunnah menjadikan ‘Âsyûr’â’ layaknya sebagai hari raya dan hari bahagia sementara orang-orang Syi’ah menjadikannya sebagai hari berduka cita, mereka berkumpul membacakan syair-syair haru kemudian menangis dan menjerit.” (at-Tasyayyu’ Wa asy-Syî’ah: 142)
    Sementara Syekh Ali Mahfudz mengatakan bahwa di Kufah ada kelompok Syi’ah yang sampai bersikap ghuluw (berlebihan) dalam mencintai al-Husain radliallâhu ‘anhu yang dipelopori oleh al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid ats-Tsaqafy (tahun 67 H dibunuh oleh Mush’ab bin az-Zubair) dan ada kelompok Nâshibah (yang anti Ali beserta keturunannya), yang diantaranya adalah al-Hajjâj bin Yûsûf ats-Tsaqafy.
    Telah disebut di dalam hadits shahih oleh Rasulullah dalam sabdanya yang artinya : “Sesungguhnya (akan muncul) di Tsaqif (kepala suku dari Hawazin) seorang pendusta dan pembantai.”
    Yang disebut sebagai pendusta tersebut adalah al-Mukhtar yang memperselisihkan keimamahan Ibn al-Hanafiyah, dan yang disebut sebagai pembantai adalah al-Hajjâj yang membenci kaum ‘Alawiyyîn.
    Sehingga kemudian, kalangan Syi’ah tadi menciptakan bid’ah duka cita sementara kalangan Nâshibah menciptakan bid’ah bersuka ria. (al-Ibdâ’ : 150)

    Diantara Bentuk Bid’ah-bid’ah Tersebut adalah :
    Menambah belanja dapur. 
    Banyak riwayat yang mengatakan :”Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada keluarganya pada hari ‘Âsyûr’â’, maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu.” (HR. At-Thabraniy, Al-Baihaqi dan Ibnu Abdil Barr).
    Asy-Syaibâniy berkata: “semua jalurnya lemah” ; Al-Iraqi berkata : “sebagian jalur dari Abu Hurairah dishahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Nashir, jadi menurutnya ini hadits hasan, sedangkan Ibn al-Jauzy menulisnya di dalam kategori hadits palsu di dalam bukunya ‘al-Mawdlû’ât (kumpulan hadits-hadits mawdlu’/palsu). (Lihat: Tamyîz ath-Thayyib min al-Khabîts, no. 1472; Tanbih al-Ghâfilîn, 1/367).
    Sementara itu, Imam as-Suyûthy dengan tegas mengatakan : “Telah diriwayatkan tentang keutamaan meluaskan nafkah sebuah hadits dla’îf, bisa jadi -dari sebagian sisi- sebabnya adalah ghuluw di dalam mengagungkan-nya untuk menandingi orang-orang Râfidlah (Salah satu sekte Syi’ah yang ekstrem). Sebab, setan sangat berambisi untuk memalingkan manusia dari jalan lurus. Ia tidak peduli ke arah mana -dari dua arah- mereka akan berpaling, maka hendaklah para pelaku bid’ah menghindari bid’ah-bid’ah sama sekali.” (al-Amru Bi al-Ittibâ’ : 88-89)
    Imam Ahmad mengatakan ketika ditanya : “Hadits ini tidak memiliki sumber yang jelas, ia tidak memiliki sanad kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Uyainah dari Ibnul Muntasyir, padahal ia berasal dari Kufah, ia meriwayatkannya dari seorang yang tidak dikenal.” (al-Ibdâ’ :150)

    Memakai Celak (Sifat Mata) Dan Mandi.
    Mereka meriwayatkan sebuah hadits: “Barangsiapa yang memakai celak pada hari ‘Âsyûr’â’, maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan barangsiapa mandi pada hari ‘Âsyûr’â’, ia tidak akan sakit selama tahun itu.” (Hadits ini mawdlû’/palsu menurut as-Sakhâwy, Mulla ‘Aly Qâry dan al-Hâkim) (al-Ibdâ’ : 150-151)

    Mewarnai kuku.
    Bersalam-salaman.
    Imam as-Suyûthy mengatakan : ” Semua perkara ini (no.2-5) adalah bid’ah munkarah, dasarnya adalah hadits palsu atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .” (al-Amru Bi al-Ittibâ’ : 88)

    Mengusap-usap kepala anak yatim.
    Memberi makan seorang mukmin di malam ‘Âsyûr’â’
    Mereka tidak segan-segan membuat hadits palsu dengan sanad dari Ibnu Abbas yang mirip dengan hadits buatan orang Syi’ah yang berbunyi:
    “Barangsiapa berpuasa pada hari ‘Âsyûr’â’ dari bulan Muharram, maka Allah memberinya (pahala) sepuluh ribu malaikat, sepuluh ribu haji dan umrah dan sepuluh ribu orang mati syahid. Dan barangsiapa memberi bukaan seorang mukmin pada malam ‘Âsyûr’â’, maka seakan-akan seluruh umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka di rumahnya sampai kenyang.” (Hadits palsu dinyatakan oleh Imam as-Suyûthy dan asy-Syawkany, no. 34; lihat: Tanbîh al-Ghâfilîn: 1/366).
    Membaca do’a ‘Âsyûr’â’ seperti yang tercantum dalam kumpulan do’a dan Majmu’ Syarif yang berisi minta panjang umur, kehidupan yang baik dan khusnul khotimah. Begitu pula keyakinan mereka bahwa siapa yang membaca do’a ‘Âsyûr’â’ tidak akan meninggal pada tahun tersebut, ini adalah bid’ah yang jahat. (as-Sunan wa al-Mubtada’ât, Muhammad asy-Syuqairy: 134).
    Membaca “Hasbiyallâh wani’mal wakîl” pada air kembang untuk obat dari berbagai penyakit.
    Shalat ‘Âsyûr’â’. Haditsnya adalah palsu, seperti yang disebutkan oleh as-Suyûthy di dalam kitab ‘al-La`âli al-Mashnû’ah’ (as-Sunan wa al-Mubtada’ât: 134).
 ‘Âsyûrâ` Dalam Tradisi dan Kultur Kejawen
Bulan ‘Suro’ banyak diwarnai oleh orang Jawa dengan berbagai kegiatan spritual yang bernuansa mitos dan khurafat, antara lain :
Keyakinan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat yang tidak boleh dibuat main-main dan bersenang-senang seperti hajatan pernikahan dan lain-lain yang ada hanya ritual. Ternyata kalau kita renungkan dengan cermat apa yang dilakukan oleh orang Jawa di dalam bulan Suro adalah merupakan akulturasi Syi’ah dan animisme, dinamisme dan Arab jahiliyah. Dulu,orang Quraisy jahiliyah pada setiap ‘Âsyûr’â’ selalu mengganti Kiswah Ka’bah (kain pembungkus Ka’bah) (Fath Bâry: 4/246).

Kini, orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus. Alangkah miripnya hari ini dan kemarin.
Di dalam Islam, ‘Âsyûr’â’ tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri (Syi’ah), tidak diisi dengan pesta dan berhias diri (Jahalatu Ahlissunnah) dan tidak diisi dengan ritual di tempat-tempat keramat atau yang dianggap suci untuk tolak bala’ (Kejawen) bahkan tidak diisi dengan berkumpul-kumpul. 

Namun yang ada hanyalah puasa Asyura’ dengan satu hari sebelumnya atau juga dengan sehari sesudahnya. Waallahu-a’lam
READMORE - Âsyura` Dalam Perspektif Islam

Muhammad SAW “The Super Leader Super Manager”


Mengkaji perjalanan hidup Rasulullah SAW adalah bagaikan mengarungi lautan tak bertepi karena sangat luas, kaya dan mencerahkan. Keluasan suri tauladan Muhammad SAW mencakup semua aspek hidup dan kehidupan.

Selama ini faktor lain yang mereduksi nilai keteladanan leadership dan manajemen Rasulullah SAW adalah ketidakmampuan melihat perjalanan hidup Rasulullah SAW secara lengkap dan holistic baik dimensi sosial, politik, edukasi, dan legal untuk kemudian memformulasikannya dengan nilai-nilai keteladanan tersebut kedalam suatu model yang dapat diteladani dengan mudah.

Saat ini cara pandang kebanyakan kita terhadap Rasulullah SAW adalah one sided. Artinya hanya menjadikan Muhammad SAW sebagai pemimpin keagamaan saja. Daerah teritorialnya hanya di mesjid, mushalla dan panutan saat kita shalat saja, tetapi bila kita sudah keluar dari masjid, dan masuk ke bank atau lembaga keuangan lainnya, maka suri tauladannya ditinggalkan. Ketika kita melakukan ekspor-impor petuahnya tentang kejujuran diabaikan.

Saat musim maulid (peringatan kelahiran Rasulullah SAW) tiba, banyak di antara kita yang membaca shalawat-shalawat panjang, diba dan barzanzi. Tetapi semua itu sebatas dikumandangkan di masjid, madrasah, dan rumah-rumah saja. Saat kita kembali ke kantor, ternyata kantor kita kosong dari nilai-nilai akhlak dan keluhuran budi pekerti seperti yang diajarkan barzanzi. Tidak ada sepotong hadits pun, yang jumlahnya puluhan ribu itu, termuat dalam manual dan Standard Operating Procedure (SOP) perusahaan kita. Demikian juga halnya dengan corporate culture institusi kita nun jauh dari ajaran akhlak mulia yang didakwahnya. Walhasil shalawat terus kita baca, barzanzi selalu kita kumandangkan tetapi perusahaan kita semakin jauh dari teladan Rasulullah SAW. Bahkan tidak jarang semakin hari semakin dekat ke budaya Yahudi dan kapitalistik. Si kuat memakan si lemah. Profit jauh lebih diutamakan dari akhlak dan syariah.

Dengan kepiawan sang penulis Muhammad Syafii Antonio memformulasikan buku ini dalam bentuk tulisan, gambar dan warna yang menarik dan mudah untuk dipahami. Tulisan ini Syafii Antonio ini sangat kaya dengan sumber-sumber tertulis. Ini bisa terlihat dari sumber dan sanad catatan kaki di sepanjang halaman yang menceritakan tentang Rasulullah SAW. Tidak hanya untuk paragraf panjang saja, bahkan walaupun hanya dua alinea penulis menyertakan sumber tertulisnya.

Sistematika buku ini dibagi dalam 4 bagian utama yang terdiri dari 12 bab. Bagian I terdiri dari 2 bab yaitu bab 1 sebagai Mukaddimah dan bab 2 berisi pembacaan terhadap konsep-konsep manajemen dan leadership modern. Bagian II memuat 1 bab yakni bab 3 berupa survey of literature terhadap berbagai tulisan dan kajian klasik tentang Muhammad SAW. Tujuan utama dari bagian II adalah untuk menunjukkan bahwa betapa masih banyaknya suri tauladan Muhammad SAW yang masih harus digali dengan penuh ketekunan dan kesabaran tetapi juga mengasyikkan.

Bagian III berisi 8 bab yang merupakan isi pokok dari buku ini seperti dijelaskan di atas. Bagian IV terdiri dari 12 bab yang merupakan bab penutup berupa epilog. Di bagian akhir buku disertakan juga appendix, index dan daftar pustaka.

Berikut adalah sekelumit deskripsi penulis tentang Muhammad SAW sebagai pemimpin bisnis dan entrepreneurship dalam bab 5 : Salah satu aspek kehidupan Muhammad SAW yang kurang mendapat perhatian serius adalah kepemimpinan beliau di bidang bisnis dan entrepreneurship. Muhammad SAW lebih dikenal sebagai seorang rasul, pemimpin masyarakat atau ‘negara’, dan pemimpin militer. Padahal sebagian besar kehidupannya sebelum menjadi utusan Allah SWT adalah seorang pengusaha. Ia telah memulai merintis karir dagangnya ketika berumur 12 tahun dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan ini terus dilakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu. Angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulan beliau yang berlangsung selama ± 25 tahun ketika beliau menerima wahyu. Angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulan beliau yang berlangsung selama ± 23 tahun.

Aspek bisnis Muhammad SAW ini juga luput dari perhatian kebanyakan orientalis. Mungkin karena dianggap kurang kontroversial dan tidak menarik dalam perdebatan teologis. Sebagian mereka juga sering melancarkan serangan terhadap pribadi Muhammad SAW tetapi jarang sekali yang mengkaji secara mendalam prilaku bisnis beliau. Kewirausahaan (entrepreneurship) tidak terjadi begitu saja tetapi hasil dari suatu proses yang panjang dan damai dan dimulai sejak beliau masih kecil. Hal ini sesuai dengan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Collin dan Moores (1964) dan Zalzenik (1976) yang berkesimpulan bahwa “The act of entrepreneurship is an act patterned after modes of coping with early childhood experience”. Pendapat seperti ini diamini oleh kebanyakan guru leadership yang sepakat bahwa apa yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan kita akan membuat perbedaan yang berarti dalam periode kehidupan berikutnya.

“Many greatmen started as newspaper boys” kata orang bijak. Untuk menjadi seorang pemimpin atau wirausaha yang tangguh, pengalaman masa kecil itu tidak selamanya positif atau menyenangkan. Sebuah penelitian terhadap beberapa pemimpin yang dilakukan oleh Manfred Kets de Vries (1995) berkesimpulan bahwa kerasnya kehidupan masa kecil menimbulkan dorongan untuk memimpin.

Because of the hardships they have encountered, many of them seem to be one mission: they are going to prove the world wrong: they are going to show everyone that they can amount to something. Many of them, suffering from what could be called the Count of Monte Cristo complex (after Alexander Duma’s novel), go even further, they have a very strong need to get even for the wrongs done to them at earlier periods in their lives. (Joseph dan Jimmie Boyett. 1998. The Guru Guide, the Best Ideas of the Top Management Thinkers. New York : John Wiley & Son. Hal. 49)

Dalam konteks Muhammad SAW, beliau mempunyai pengalaman yang pahit dengan terlahir sebagai anak yatim. Beliau sempat mempunyai pengalaman yang menyenangkan ketika diasuh oleh Halimah, setelah sempat berbahagia hidup bersama ibunya. Muhammad kecil menjadi yatim-piatu ketika berumur 6 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, dan setelah wafat, dilanjutkan oleh pamannya Abu Thalib. Sayangnya, Abu Thalib merupakan salah satu anak Abdul Muthalib yang paling sederhana hidupnya, sehingga tak jarang Muhammad kecil harus membantu ekonomi keluarga sang paman dengan bekerja ‘serabutan’ kepada penduduk Makkah. Pengalaman kecil seperti inilah yang menjadi modal psikologis beliau ketika menjadi seorang wirausaha di kemudian hari.

Pekerjaan menggembala ternak merupakan pekerjaan yang umum dilakukan oleh para nabi dan rasul, seperti Musa, Daud dan Isa. Menurut catatan sejarah, dimasa kecil Muhammad SAW pernah menggembala ternak penduduk Makkah. Muhammad SAW pernah mengatakan, “semua nabi pernah menggembala ternak”. Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan Anda ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Allah tidak mengutus seorang nabi melainkan dia itu pernah menggembala ternak.” Sahabat kemudian bertanya lagi, “Anda sendiri bagaimana Rasulullah?” beliau menjawab “Aku dulu menggembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.

Pekerjaan menggembala ternak merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian leadership dan manajemen yang baik. Para penggembala harus mampu mengarahkan ternaknya ke padang gembalaan yang subur dengan rumput menghijau. Di samping itu, mereka juga harus dapat mengendalikan hewan ternaknya agar tidak tersesat. Mereka juga harus melindungi ternaknya dari berbagai gangguan seperti dari hewan pemangsa dan para pencuri. Ini semua merupakan bentuk fungsi kepemimpinan dan manajemen. Mungkin latar belakang seperti ini memang digariskan Allah SWT kepada calon rasul yang akan mengemban risalah kenabian dan memimpin umat.

Perjalanan karir Muhammad SAW di bidang perdagangan dapat dirumuskan sebagaimana berikut : Muhammad SAW telah mengenal perdagangan di usia 12 tahun atau diistilahkan dengan magang (internship). Hal ini terus dilakukan sampai usia 17 tahun ketika beliau telah mulai membuka usaha sendiri. Waktu itu pamannya menganjurkan beliau untuk berdagang agar beban keluarga mereka dapat berkurang. Dengan demikian pada usia ini beliau sudah menjadi seorang business manager. Dalam perkembangan selanjutnya ketika pemilik modal Makkah mempercayakan pengelolaan perdagangan mereka kepada Muhammad SAW, beliau menjadi investment manager.

Ketika beliau menikah dengan Khadijah dan terus mengelola perdagangannya, maka status beliau naik menjadi bussiness owner. Ketika usia beliau menginjak pertengahan 30-an, beliau menjadi seorang investor dan mulai memiliki banyak waktu untuk memikirikan kondisi masyarakat. Pada saat ini beliau sudah mencapai apa yang diistilahkan Robert Kiyosaki sebagai kebebasan uang (financial freedom) dan waktu.

Inilah sekelumit kisah Rasulullah yang ada dalam buku setebal 320 halaman. Masih banyak kisah menarik lainnya tentang pribadi beliau yang memang layak digugu dan ditiru.

Dari beberapa sumber.
READMORE - Muhammad SAW “The Super Leader Super Manager”

Sponsorship

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template